Tips dan Cara Lengkap Budidaya Ikan Lele bagi Pemula

                     Panduan budidaya ikan lele secarlengkap

Panduan budidaya ikan lele secara lengkap

Lele merupakan salah satu ikan berkumis dari keluarga
Setiap hari permintaan lele dipasaran selalu meningkat, namun sayangnya harga ikan lele tetap begitu begitu saja tidak pernah naik harga.saat ini budidaya ikan lele jika tidak dilakukan secara serius maka kita akan membuang-buang waktu dan materi saja, jika dibandingkan dengan ikan lain memang ikan lele memiliki banyak keunggulan mulai dari segi produksi yang cepat, kepadatan tebar, dan juga survival rate (SR). Kali ini saya akan menjabarkan budidaya ikan lele secara lengkap dan cukup mudah baik bagi yang masih pemula di dunia perlelean

 PERSIAPAN KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE


Untuk budidaya ikan lele dibutuhkan sarana untuk mendukung kesejaheraan lele. Kolam ikan lele tidak dapat dianggap sebagai hal yang tidak terlalu penting. Karena kolam akan menjadi rumah terakhir sikumis sebelum masuk kuali,,, hehehehe
Konstruksi kolam adalah langkah awal semangat lele untuk hidup, sama seperti manusia bukan, jika anda tinggal ditempat yang tidak memadai maka anda akan merasa tidak nyaman untuk tinggal ditempat itu,
Kita dapat memilih jenis kolam yang akan kita pakai, biasanya para pembudidaya memkai kolam tanah, kolam beton dan kolam yang terbuat dari terpal. Tergantung yang mana yang akan anda gunakan. Membangun  kolam  bisa  dikatakan  tidak  sulit  apabila  menguasai prinsip-prinsip, teknik dan cara pembuatannya. Persyaratan teknis yang  harus  dipenuhi  adalah  tersedia  sumber  air  untuk  mengisi  air kolam  sepanjang  tahun,  dan  pada  musim  penghujan  tidak  pernah mengalami  kebanjiran.     Yang  tidak  kalah  penting  bahkan  bisa menjadi  faktor  pembatas  dalam  budidaya,  yaitu  kualitas  air  yang meliputi sifat-sifat fisika air, kimia air, dan biologi air.
Baca Juga


JENIS-JENIS KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE

1) Kolam Tanah
penggunaan kolam tanah sebagai media budidaya ikan lele saya pikir cukup bagus. Anda hanya menyesuaikan konstruksinya saja. Usahakan membuat kolam jangan ditempat yang terlalu datar karena akan mempersulit saat  panen nantinya. Penggunaan kolam tanah dapat mengghemat biaya produksi kita karena pembuatan kolam ini tidak memakan banyak biaya dan tentunya kolamnya tahan lama.

Untuk  membangun  kolam  yang  demikian, dua hal yang harus diperhatikan betul  adalah tanah dan air. Sebab kedua  hal  pokok  tersebut  nantinya  akan  menentukan  bentuk,  luas dan banyaknya kolam yang akan dibuat. Tanah yang dimaksud disini selain dari teksturnya, juga kemiringan tanahnya sendiri yang kita kenal dengan istilah tofografi. Sedangkan persyaratan  air  yang  harus  diperhatikan  selain  dari  banyaknya  air yang  kita  kenal  dengan  debit  air,   juga  kontinyuitasnya  yang  harus tersedia  sepanjang  tahun.

2) Kolam Beton
Tentu setiap orang yang membudidayakan ikan terutama ikan lele menginginkan kolam ini. Kita pasti sudah tahu sangat banyak keuntungan dan kenudahan yang akan kita dapat jika menggunakan kolam ini.

 Kita dapat lelusa dalam mengontrol air dan pada saat pemanenan kita tidak perlu bermain-main dengan lumpur. Tetapi untuk membuat kolam beton mengharuskan kita untuk merogoh kantung dalam-dalam. Satu kolam saja untuk ukuran 4m x 6m saja memerlukan dana sebesar Rp 3-4 juta . yah tentu kita harus berpikir akan hal itu, jika anda tidak memiliki modal sebesar itu anda bisa saja mengakalinya dengan menggunakan kolam terpal atau kolam tanah.

3) Kolam Terpal
Untuk menghemat modalproduksi anda dapat menggunakan kolam ini, kolam yang terbuat dari terpal yang di rancang dengan sangat baik akan dapat memberi hasil yang sangat memuaskan. Kolam ini sangat flexsibel. Namun penggunaan kolam jangka panjang kolam ini sangat tidak disarankan. Kolam terpal biasanya hanya dapat bertahan sekitar 1-2 tahun saja tergantung jenis terpal yang digunakan.

PERSYARATAN LOKASI BUDIDAYA IKAN LELE


Bayak faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya budidaya ikan lele
Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain
a. Tanah
Tanah  yang  baik  untuk  pembuatan  kolam  ikan  adalah  jenis liat  atau  lempung  dengan   sedikit  kandungan  pasir.   Karena kedua jenis tanah ini kedap (dapat menahan) air. Jenis tanah ke  dua  yang  dianggap  masih  cocok  yaitu  jenis  tanah beranjangan  atau  terapan  dengan   kandungan  liat  sekitar 30%.   Kedua  jenis  ini  terbukti  mampu  menahan  massa  air yang besar dan tidak bocor, sehingga dapat dibuat pematang yang  kuat  dan  kokoh.   Apabila  kita  menemukan  jenis  tanah selain  di  atas,  seperti  banyak  mengandung  pasir,  kerikil, bahkan  batu-batu  besar,  maka  kita  harus  membuat  kolam dengan konstruksi tembok/semen atau terpal, karena jenis tanah seperti ini tidak mampu menahan air (poros).

b. Air

Air  merupakan  persyaratan  mutlak  yang  menjadi pertimbangan  dalam  pembuatan  kolam,  sebab  nantinya  air akan menjadi media hidup bagi ikan di dalam kolam. Sumber air pada pemilihan lokasi pembuatan kolam ini dapat berasal dari air sungai, waduk, atau saluran pengairan lainnya, yang  terpenting  sumber  air  tersebut  tidak  tercemar  dan mengalir  sepanjang  tahun,  agar  dapat  memenuhi  kebutuhan air kolam Hindari  pemilihan  lokasi  yang  sumber  airnya  tercemar  oleh limbah-limbah  beracun.

 Biasanya  keberadan  pabrik-pabrik dan  limbah  perkotaan  merupakan  sumber  pencemaran  yang berbahaya bagi ikan yang dapat mengakibatkan kematian. Persyaratan  lain  dari  sumber  air  ini  adalah  dari  segi  kualitas airnya.   Memang ikan lele  memiliki daya  adaptasi  dan  ketahanan  yang  cukup baik.   Namun secara  umum  nilai  persyaratan  kualitas  air  untuk budidaya ikan lele  adalah nilai suhu berkisar 25 –  30 0C, pH 6,5 –8,5,dan DO minimal 3 ppm

KONTRUKSI WADAH KOLAM BUDIAYA IKAN LELE


Bagian-bagian kolam  budidaya ikan lele meliputi pematang kolam, dasar kolam, pintu  pemasukan  air  (inlet),  pintu  pengeluaran  air  (outlet),  saluran pemasukan  air,  dan  saluran  pembuangan  air,  kamalir,  dan  kobakan

a.Pematang kolam

Pematang  merupakan  bagian  kolam  utama  yang  memberikan  bentuk dari suatu kolam dan berfungsi agar air dapat selalu tertampung dalam volume yang cukup untuk memelihara ikan. Tanpa pematang maka air tidak  akan  bisa  tertampung  atau  tergenang  pada  suatu  tempat,  maka tempat tersebut tidak layak dikatakan sebagai kolam. Pematang  kolam  harus  dibuat  dengan  ukuran  yang  memadai  sesuai dengan  luas  kolam.  


Selain  kuat  untuk  menahan  volume  air,  pematang juga harus mampu menahan arus air yang disebabkan oleh hujan lebat atau  banjir.   Pematang  kolam  yang  baik  adalah  berbentuk  trapesium. Lebar  pematang  bagian  atas  dan  bawah  hendaknya  dibuat  dengan perbandingan 1 : 2. Tinggi pematang harus sesuai dengan  luas kolam serta jenis ikan yang akan dibudidayakan. Pematang harus lebih tinggi dari permukaan air di kolam.   Misalnya  apabila  anda  menginginkan  membuat  kolam  dengan ketinggian air kolam 75 cm, maka ketinggian kolam sebaiknya 100 cm.


Pematang  dan  dasar  kolam  berfungsi  menahan  massa  air  selama mungkin di dalam kolam, sehingga ikan peliharaan dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak. Pematang dan dasar kolam ada yang dibuat dari beton atau dari tanah asal dari kolam itu dibangun. Pembuatan kolam dilakukan  dengan  menggali  permukaan  tanah,  dan  tanah  bekas  galian tersebut digunakan untuk membangun pematang. Pematang  dibuat  berbentuk  trapesium,  dimana  ukuran  lebar  bagian atas  antara  1  – 1,5  meter,  lebar  bagian  dasarnya  2  – 3  meter,  dengan tinggi  berkisar  1  – 1,  5  meter.  

Fungsi  lain  dari  pematang    ini  adalah untuk  sarana  orang  berjalan  untuk  keperluan  budidaya  ikan.   Kadangkadang  petani  dalam  membuat  pematang  juga  mempertimbangkan jenis  tanah  yang  akan  dibuat  kolam,  sebagai  contoh  apabila  jenis tanahnya  banyak  mengandung  fraksi  tanah  liat,  maka  kemiringnnya lebih curam.  Dengan kata lain perbandingan lebar antara bagian atas dan bagian bawah lebih kecil. Untuk kolam yang jenis tanahnya banyak mengandung  fraksi  pasir,  maka  pematangnya  dibuat  lebih  landai,  agar meminimalisir terjadi longsor pada kolam


b. Saluran Air

Saluran air merupakan hal yang harus di perhatikan dalam pembuatan kolam. Fungsi saluran ini adalah untuk mengontrol keluar masuknya air dan menjaga kebanjiran kolam pada saat musim peng hujan.

Oleh karena itu saluran air dibuat dengan perhitungan yang cermat. Bisa juga menggukan sistem Central Drain. Pintu pemasukan air (inlet) berfungsi untuk memasukkan air. Air yang dimasukkan  adalah  air  bersih  yang  kaya  oksigen  terlarut  (DO),  dan kalau  memungkinkan  kaya  zat  hara,  karena  oksigen  terlarut  sangat dibutuhkan  oleh  biota  air  yang  ada  di  dalam  kolam  terutama  ikan budidaya untuk  aktifitas respirasinya.

Sedangkan zat hara dibutuhkan oleh fitoplankton untuk melakukan proses fotosintesis. Pintu  pengeluaran  air  (outlet)  berfungsi  untuk  mengeluarkan  air  dari dalam  kolam  ke  luar.   Air  yang  dikeluarkan  adalah  air  kotor  yang banyak  mengandung  NH3,  H2S,  CO2,  NO2,  dan  limbah  metabolisme (metabolit)  lainnya.    Inlet  kolam  bisa  terbuat  dari  paralon  atau berbentuk saluran. pengontrolan air dan pemanenan dipengaruhi oleh ini.


PENGOLAHAN DASAR KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE


Pengelolan  wadah,  media,  dan  peralatan  pembesaran  ikan  memegang  peranan penting, baik untuk keberhasilan maupun untuk memperlancar kegiatan produksi. Pengelolaan  wadah  adalah  bagaimana  kita  mengelola  wadah  agar  bisa  berfungsi dengan  optimal  untuk  digunakan  dalam  kegiatan  pembesaran  ikan  seperti  tidak bocor,  meminimalisir  keberadaan  hama  dan  penyakit  yang  bisa  menyerang  ikan, meminimalisir  keberadaan  bahan-bahan  beracun,  dan  membuat  kondisi  kualitas air  yang  sesuai  dengan  kehidupan  ikan.  


Pengelolaan  media  adalah  menjaga kondisi optimal  kualitas air agar selalu berada pada  kisaran  nilai-nilai yang ideal bagi  ikan.   Adapun  pengelolaan  peralatan  adalah  mengidentifikasi  dan mengadakan  peralatan  untuk  pembesaran  ikan  baik  yang  utama  maupun pendukung  serta  mampu  mengoperasikannya  sehingga  dapat  berfungsi  untuk meningkatkan produktifitas kolam/tambak. Adapun  ruang  lingkup  yang  akan  dibahas  pada  materi  ini  meliputi:  menyiapkan wadah  pembesaran  ikan,  menyiapkan  media  pembesaran  ikan  ,  dan  menyiapkan peralatan dan bahan pembesaran ikan.

Kolam  atau  tambak  baik  yang  baru  maupun  yang  lama  yang  akan dipergunakan  untuk  pembesaran  ikan  harus  dipersiapkan  agar  kondisi  fisik, kimia,  dan  biologi  kualitas  airnya  baik,  sehingga  mendukung  bagi  kehidupan ikan  untuk  tumbuh  dengan  baik  juga.  Langkah-langkah  persiapan  kolam/ kolam/tambak pembesaran ikan sebagai berikut :

1) Mengeringkan dasar kolam
2) Mengolah dasar kolam
3) Memberantas Hama
4) Mengapur dasar kolam
5) Memupuk dasar kolam
6) Mengairi kolam


1.  Mengeringkan dasar kolam

Pengeringan dan penjemuran dasar kolam/tambak dapat dilakukan dengan bantuan  sinar  matahari  atau  dapat  didukung  dengan  cara  pembakaran sekam  di  dalam  kolam/tambak  pembesaran  ikan.

Tujuan  pembakaran sekam  selain  untuk  mempercepat  pengeringan  terutama  pada  waktu musim  hujan,  yaitu  untuk   membunuh/mengusir  hama  penyakit  yang bersembunyi pada lubang-lubang tanah, dan sebagai pupuk organik. Proses pengeringan  berlangsung  kurang  lebih  selama  1  –  2  minggu  (pada  cuaca normal)  dimana  indikasi  yang  dapat  dilihat  sampai  permukaan  dasar kolam/tambak  mulai  retak-retak  dan  masih  lembab  tetapi  jangan  sampai tanah menjadi berdebu karena dapat mengurangi kesuburan tanah.


Secara umum, pengeringan kolam/tambak bertujuan untuk :
Mengoksidasi  bahan  organik  yang  terkandung  dalam  lumpur  dasar tersebut menjadi mineral (hara).
Menguapkan  zat/bahan  beracun  yang  dapat  mengganggu  kehidupan
ikan seperti NH3  (Amonia), H2S (Asam Sulfida), dan NO2  (Nitrit )  pada tanah/lumpur .
Memutus/membunuh  siklus  hidup  organisme  pengganggu  yang terdapat pada lumpur/tanah
Mempercepat proses dekomposisi oleh bakteri pengurai. Pengeringan  tanah  dasar  kolam/tambak  yang  baik  juga  efektif  untuk
membunuh benih-benih ikan liar, ikan-ikan buas, benih kepiting, dan hamahama  lain,  serta  bibit-bibit  penyakit.   Hal  ini   akan  lebih  lengkap  apabila dibarengi  dengan  pemasangan  saringan  yang  baik  pada  pintu  pemasukan air untuk mencegah masuknya hama ke dalam kolam/tambak.

2. Pengolahan dasar kolam

Pengolahan  dasar  kolam/tambak  dilakukan  setelah  pengeringan  dasar kolam/tambak  selesai  dilakukan.   Tujuan  dari  pengolahan  dasar kolam/tambak adalah :
agar tanah dasar menjadi gembur sehingga memungkinkan aliran udara masuk  ke  sela-sela  tanah,  sehingga  proses  oksidasi  dapat  berlangsung dengan baik.
membunuh  organisme  patogen  yang  masih  tertinggal  di  lapisan  tanahbagian dalam.
Memperbaiki  kondisi  tekstur  dan  struktur  tanah,  sehingga  tanah porous menjadi kedap air
Membuat  dasar  kolam  atau  pelataran  tambak  memiliki  kemiringan  ke pintu pengeluaran agar air mudah dikuras apabila waktu penggantian air atau pada waktu pengeringan kolam/tambak.
Menghilangkan  atau  mengurangi  bahan-bahan  kimia  beracun  dalam tanah  akibat  pembusukan  dan  penguraian  (mineralisasi)  unsur -unsur yang  dapat  mengganggu  kehidupan  ikan  seperti  Asam sulfida  (H2S), Amonia (NH3), Nitrit , dan sebagainya.
Mengurangi  volume  lumpur  pada  dasar  kolam/tambak,  dimana  hasil buangan  lumpur  bisa  dipergunakan  untuk  menebalkan  pematang kolam/tambak.


Pengolahan bisa dilakukan dengan menggunakan cangkul, bajak, dan mesin traktor.  Untuk  mengurangi  kandungan  bahan  organik  di  dasar kolam/tambak,  lapisan  tanah  dasar  kolam dicangkul sedalam  5  –10  cm  dan  lumpur  diangkat  kemudian  dipindahkan  ke  pematang  atau tempat lain di luar kolam. Sistem  pengangkatan  lumpur  pada  dasar  kolam/tambak  ke  pematang kolam/tambak  dikenal  dengan  istilah  “keduk  teplok”, dimana  lumpur dilapis  secara  merata  pada  pematang  kolam/tambak  sehingga  pematang semakin tebal dan tambah kuat. Pada  saat  pengolahan  dasar  kolam/tambak,  dilakukan  juga  pengontrolan kondisi  bagian-bagian  kolam/tambak  sekaligus  perbaikannya  apabila terdapat  kerusakan-kerusakan  seperti  kebocoran  pematang,  kebocoran pintu pengeluaran dan pemasukan air, perbaikan caren, dan sebagainya.


Dengan pengolahan serta perbaikan seluruh bagian kolam/tambak, kondisi fisik  dan  biologi  lingkungan  kolam/tambak  menjadi  baik.   Air  masuk  dan keluar menjadi lancar, tidak ada kebocoran kolam/tambak, mempermudah tindakan  penanganan  apabila  kualitas  air  di  dalam  kolam/tambak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Langkah-langkah pengolahan dasar kolam/tambak adalah sebagai berikut:
1. Tentukan jenis kolam/tambak yang digunakan untuk pembesaran ikan

2. Siapkan  seluruh  alat  dan  bahan  yang  diperlukan  untuk  pembesaran ikan

3. Keringkan  kolam/tambak  pembesaran  ikan  dengan  menutup  inlet membuka outlet kolam/tambak


4. Gemburkan  dasar  kolam/tambak  secara  merata  dengan  cara mencangkul tanah dasar kolam/tambak sedalam 5 – 10 cm.

5. Angkatlah  lumpur  pada  dasar  kolam/tambak  dan  ratakanlah  ke pematang kolam/tambak (sistem keduk teplok)

6. Lakukan  pembuatan  dan  perbaikan  terhadap  bagian-bagian kolam/tambak  yakni  inlet  dan  outlet, keran  serta  pematang kolam

7. Bersihkanlah  peralatan  yang  telah  digunakan,  dan  kembalikanlah  ketempatnya semula

3.Memberantas hama ikan lele

Dalam  kegiatan  pembesaran  ikan,  baik  yang  dilakukan  secara tradisional,  semi  intensif  maupun  intensif,  masalah  gangguan  hama, merupakan masalah yang tidak bisa diremehkan. Keberadaannya ada yang  karena  kurang  baiknya  persiapan  kolam/tambak,  dan  ada  pula yang disebabkan terbawa aliran air masuk.

Hama dapat digolongkan dalam 3, yaitu golongan pemangsa (predator), golongan penyaing (kompetitor), dan golongan pengganggu. Golongan  pemangsa  benar-benar  sangat  merugikan  kita,  karena  dapat memangsa  ikan  secara  langsung.   Hama  yang  termasuk  golongan  ini antara lain adalah:
Ikan  buas,  seperti  Gabus  (Channa striatus),  Toman  (Channa micropeltus), Belut (Pluta alba), dan lain-lain.
Ketam ketaman diantaranya adalah kepiting.
-  Bangsa  burung,  seperti  blekok  (Ardeola  ralloides  speciosa),  cangak (Ardea cinerea rectirostris), dn lain-lain.
-  Bangsa  ular  seperti  ular  air  atau  ular  kadut  (Cerberus  rhynchops Fordonia leucobalia, dan Chersidrus granulatus).
-  Wlingsang,  sero  atau  otter  (Amblonyc  cinerea  dan  Lutrogale perspiciliata).
Golongan penyaing (kompetitor) adalah hewan-hewan yang menyaingi ikan  dalam  hidupnya,  baik  dalam  mengambil  pakan  maupun  dalam ruang geraknya. Termasuk ke dalam golongan ini adalah:
Bangsa siput seperti keong mas.
Ikan liar seperti ikan seribu, ikan sapu-sapu dan lain-lain.
Golongan  pengganggu,  walaupun  tidak  memangsa  atau  mengganggu namun merusak pematang, merusak pintu air, dan merusak dasar tanah kolam/tambak. Beberapa diantaranya adalah :
Bangsa  ketam  yang  suka  membuat  lubang-lubang  di  pematang, sehingga dapat menyebabkan kebocoran pada kolam/tambak.
Ikan Belut juga suka membuat lubang di pematang


Untuk  memberantas  hama-hama  yang  hidup  di  dalam,  kita  dapat menggunakan pestisida organik atau alami yang relatif tidak berbahaya baik  bagi  ikan  yang  kita  budidayakan  maupun  bagi  konsumen  yang mengkonsumsinya.   Seperti kita ketahui jenis pestisidaanorganik memiliki sifat lambat terurai di dalam air sehingga akan bisa termakan bersama-sama  dengan  pakan,  dan  didalam  tubuh  ikan  akan terakumulasi.


 Apabila  termakan  oleh  manusia  akan  menyebabkan keracunan atau bisa merusak organ tubuh seperti hati, ginjal, dan lainlain. Jenis-jenis pestisida alami tersebut antara lain tepung biji teh (Camellia sp.)  yang  mengandung  racun  Saponin  sebanyak  10  –  15  %,  akar  tuba (Derris  eliptica)  yang  mengandung  racun  Rotenon,  dan  sisa-sisa tembakau (Nicotina tabacum) yang mengandung racun Nikotin.Ikan-ikan  liar,  ikan  buas,  siput  dan  ketam  dapat  diberantas  dengan Saponin  pada takaran 15  –  20 kg/ha. Penggunaan tepung biji teh bisa juga  dilakukan,  yaitu  dengan  dosis  150  –  200  kg/ha.   Saponin  sangat cocok  dan  aman  untuk  memberantas  hama-hama  ikan,  sebab  pada takaran  tertentu  sudah  dapat  mematikan  hama,  tetapi  tidak membahayakan  ikan  maupun  jasad-jasad  makanan  ikan.   Daya  racun Saponin terhadap    hama  ikan  seperti kepiting/ketam  50 kali lipat lebih besar dari pada terhadap ikan. Daya racunnya sudah akan hilang dalam waktu 2 – 3 hari.


 Daya  racun  Saponin  akan  berkurang,  apabila  digunakan  pada  air  yangberkadar  garam  rendah.   Pada  air  berkadar  garam  15  permil,  maka dosis pemakaiannya 12 gram/m3 .Cara penggunaannya adalah tepung direndam dalam air selama 24 jam agar  Saponinnya   larut.   Selanjutnya  Saponin  bersama  ampasnya disebar  merata  di  tanah  dasar  kolam/tambak  yang  masih  dalam keadaan  becek.   Biarkan  selama  2  –  3  hari  agar  racun  Saponinnya bereaksi.  

Apabila  masih  terdapat  hama  yang  belum  mati,  kita  dapat membasminya  lagi  dengan  Saponin  sebanyak  0,5  ppm.   Untuk kebutuhan  itu  kita  membutuhkan  0,4  kg  Saponin  per  hektar  dengan kedalaman  air  8  cm.   Tiga  hari  kemudian,  air  dinaikkan  lagi  hingg asetinggi 15 –  25 cm. Setelah itu kolam/tambak kita cuci sebanyak 2 kali agar racunnya hilang. Tepung  Derris  yang  mengandung  5  –  8  persen  Rotenon  baik  juga digunakan untuk memberantas hama, terutama ikan buas dan ikan liar. Sifatnya  hampir  sama  dengan  Saponin,  yaitu  pada  dosis  yang mematikan  bagi  hama  ikan  tidak  menimbulkan  efek  berbahaya  bagi ikan.  

Dosis  yang  sering  diaplikasikan  untuk  membunuh  hama  ikan adalah  1  –  4  ppm  (0,8  –  3,3  kg/ha,  pada  kedalaman  air  8  cm.   Apabila tidak  ada  tepung  derris,  kita  dapat  menggunakan  akar  tubanya  secara langsung.   Cara  penggunaannya,  akar  tuba  kita  potong  kecil-kecil,  lalu direndam  selama  24  jam  atau  minimal  satu  malam.   Setelah  itu kemudian  ditumbuk  sampai  lumat,  dimasukkan  ke  dalam  air  lalu diremas-remas  sampai  air  berwarna  putih  susu.   Untuk  satu  hektar kolam/tambak, kita membutuhkan 4 – 6 akar tuba. Daya racun Rotenon sudah  hilang  setelah  4  hari.

 Yang  bertolak  belakang  dengan  racun Saponin,  Rotenon  ini  akan  bertambah  beracun  apabila  kadar  salinitas air rendah, dan berkurang apabila kadar salinitas air tinggi.Ikan  liar,  ikan  buas,  dan  siput  dapat  juga  diberantas  menggunakan nikotin  dengan  dosis  12  –  15  kg/ha.   Apabila  kita  kesulitan mendapatkannya,  sisa-sisa  tembakau  bisa  dipakai  dengan  dosis  200  –400 kg/ha. Sisa-sisa tembakau ditebarkan di kolam/ di tambak sesudah dasar  tanah  dikeringkan  dan  diisi  air  lagi  setinggi  ±10  cm  (macakmacak).   Setelah  ditebarkan  biarkan  selama  2  –  3  hari,  agar  racun nikotinnya  bereaksi  membunuh  hama  yang  ada  pada  kolam/tambak. Sementara itu air akan menyusut karena menguap.


Biarkan saja airnya habis sama sekali selama 7 hari. Setelah itu kolam/tambak diairi tanpa harus  dicuci  terlebih  dahulu,  sebab  sisa-sisa  tembakaunya  sudah  tidak beracun lagi, bahkan akan menjadi pupuk organik yang baik. Sehingga dapat menambah kesuburan kolam/tambak. Brestan-60  dapat  juga  digunakan  untuk  memberantas  hama  ikan  di kolam/tambak, terutama Trisipan.  Brestan-60 adalah bahan kimia yang berupa bubuk berwarna krem dan hampir tidak berbau. Bahan aktifnya adalah  Trifenil  asetat  stanan  sebanyak  60  %.   Dosis  yang  dibutuhkan adalah sebanyak 1  kg/ha dengan  kedalaman air 16  –  20  cm dan kadar garamnya28  –  40 permil. Daya racunnya lebih baik pada saat suhu air kolam/tambak  tinggi,  sehingga  aplikasinya  sebaiknya  dilakukan  pada tengah hari ketika panas    terik. Agar  Brestan-60  dapat  memberikan  hasil  yang  cukup  baik,  cara penggunaannya dapat kita atur sebagai berikut:
Air  dalam  petakan  kolam/tambak  disurutkan  sampai  kedalaman hanya ± 10 cm (air macak-macak),
Pintu air dan bocoran-bocoran ditutup rapat,
Bubuk  Brestan-60  yang  telah  ditakar  dilarutkan  dalam  air secukupnya,  kemudian  dipercik-percikkan  atau  disemprotkan menggunakan sprayer(semprotan) ke seluruh permukaan air.
Air  dibiarkan  menggenang  selama  4  – 10  hari,  agar   hamanya  mati semua.
Setelah itu kolam/tambak dicuci 2 –3 kali, dengan memasukkan dan mengeluarkan air pada waktu pasang dan surut.

4. Pengapuran dasar kolam

Seorang pengelola kolam/tambak, para teknisi, para pelaksana lapangan, serta semua yang berkecimpung dalam budidaya ikan pasti tidak asing lagi dengan bahan  yang dinamakan kapur. Bahan  yang berwarna putih ini  apabila  disentuh  akan  terasa  hangat   atau  panas  serta  apabila dimasukkan  ke  dalam  air,  maka  air  akan  seperti  mendidih  dan berwarna putih kekeruhan.


Dalam budidaya perikanan, kapur ini sudah lama  digunakan,  karena  berdasarkan  penelitian  yang  dilakukan  oleh Scapperclaus  (1933),  Hickling  (1962),  serta  Boyd  (1976),  kapur memiliki banyak manfaat dalam budidaya ikan di kolam /tambak.Kolam/tambak baru atau kolam/tambak lama yang kurang perawatan, pada  umumnya  mempunyai  pH  rendah.  Khusus  untuk  tambak  yang baru  dibuka  umumnya  mengandung  senyawa  Pyrite  (Fe2S)  suatu senyawa yang bukan hanya menimbulkan racun bagi ikan, namun juga dapat  mempengaruhi  pH  menjadi  rendah  bisa  mencapai  4  –  4,5.  

Cara untuk  menaikkan  pH  agar  menjadi  tinggi  sesuai  yang  dikehendaki adalah  dengan  pengeringan,  pengolahan  tanah  dasar  tambak,  dan dilanjutkan  dengan  pengapuran  yang  merata.   Khusus  untuk  tanah dasar  yang  mengandung  Pyrite,  maka  harus  dilakukan  reklamasi terlebih  dahulu  selama  kurang  lebih  4  bulan  sebelum  diberi  kapur dengan jumlah 2 – 2,5 ton/ha.


Adapun tujuan atau manfaat dari pengapuran adalah :

Meningkatkan  pH  air  dan  tanah  dasar  perairan  hingga  sesuai dengan  persyaratan  yang  dikehendaki  ikan  yang  dibudidayakan, misalnya pH harus menjadi 7 – 8.
Meningkatkan  alkalinitas  air  sehingga  produktivitas  kolam/tambak menjadi tinggi
Meningkatkan  penyediaan  mineral  di  dalam  dasar  kolam/tambak sehingga  pertumbuhan  pakan  alami  (fitoplankton)  menjadi  lebih baik. Dengan mengubah atau meningkatkan pH menjadi netral atau sedikit  basa  (alkalis),  maka  kompleks  humus  tanah  dasar  perairan menjadi  lebih  lancar  melepaskan  mineral-mineral  yang dikandungnya.
Memberantas hama dan penyakit ikan, yaitu sebagai desinfektan.
Mengikat   butir-butir  lumpur  halus  yang  melayang  dalam  air sehingga air menjadi jernih.
Mempercepat proses penguraian bahan organik.
Mengikat kelebihan Karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan baik dari hasil penguraian bahan organik maupun dari respirasi oleh makhluk hidup.


Jenis-jenis  kapur  yang  digunakan  dalam  budidaya  ikan  ada  beberapa macam  yakni  Kapur  pertanian  (CaCO3),    kapur  bangunan  (Ca(OH)2), kapur bakar/tohor  (CaO),  Kapur Silikat (CaSiO3) Kapur Dolomit (CaCO3, MgCO3), dan Kapur Nitro (Ca(NO3) 2H2O).  Dua jenis kapur yang terakhir juga  merupakan  pupuk  yang  dapat  menyuburkan  perairan,  sehingga dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton. 


Jumlah kapur yang diberikan pada setiap kolam/tambak akan berbedabeda  tergantung  dari  tingkat  pH  dan  jenis  tanah  dasar  perairan. Kolam/tambak atau perairan yang mempunyai pH sangat rendah, untuk meningkatkan  pH  menjadi  netral  atau  alkalis,  akan  diperlukan  kapur yang lebih banyak. Disamping itu, jenis tanah dasar kolam/tambak juga termasuk  faktor  yang  mempengaruhi  dalam  penentuan  jumlah  kapur yang akan diberikan. Kapasitas penetralan berbagai jenis kapur tersebut juga berbeda beda. Sebagai  contoh,  perbandingan  kapasitas  penetralan  dari  satu  kilogram kapur pertanian (CaCO3) dengan berbagai  macam kapur adalah sebagai berikut :
-  0,7 kg kapur celup (Ca (OH)2)
-  0,55 kg kaput tohor atau bakar (CaO)
-  2,25 kg kapur basa (CaCO3 + P2O5)


Semakin  besar  partikel  (butir-butir)  kapur,  semakin  berkurang efisiensinya. Oleh karena itu, bila dipandang perlu, kapur dihancurkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Adapun dosis penggunaan CaCO3(Kapur pertanian) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Seperti  telah  dijelaskan  bahwa  pengapuran  akan  menimbulkan pengaruh  yang menguntungkan bagi budidaya ikan. Keuntungan akan dapat  tercapai  bila  keadaan  kolam/tambak   pada  waktu  itu membutuhkan kapur. Sedangkan  apabila keadaan kolam/tambak sudah cukup mengandung kapur, maka tindakan  pengapuran tersebut  kurangberdaya guna. Waktu  pengapuran  kolam/tambak  dilakukan  apabila  keadaan kolam/tambak adalah sebagai berikut :

Tanah dan air kolam/tambak pH-nya sangat rendah (asam )
Alkalinitas sangat rendah
Dasar kolam/tambak terlalu banyak lumpur
Kandungan  bahan  bahan  organik  sangat  tinggi  dan  adanya  bahaya kekurangan oksigen
Adanya benih benih penyakit, parasit, dan hama ikan


Pengapuran kolam/tambak dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
1. Pengapuran dasar kolam/tambak yang sedang dikeringkan
2. Pengapuran  pada  air  kolam/tambak,  yang  dilakukan  pada  saat kolam/tambak  masih  berisi  air  atau  pada  waktu  pemeliharaan.  Jadi, didalam kolam/tambak masih terdapat ikan (dosis harus tepat).


3. Pengapuran  pada  aliran  air  yang  akan  masuk  kedalam  kompleks perkolaman/pertambakan.
Pada umumnya cara pengapuran tersebut diterapkan semuanya. Tetapi apabila  berhubungan  dengan  pengolahan  dasar  kolam/tambak, pengapuran  dilakukan  pada  saat  kolam/tambak  sedang  dikeringkan. Berhasil atau tidaknya pengapuran pada saat tersebut tergantung pada bagaimana kapur tersebut menyatu dengan tanah.

Pengapuran pada tanah dasar kolam/tambak, baik cara maupun jumlah kapur  yang  dibutuhkan  akan  berbeda-beda  antara  satu  kolam/tambak dan kolam/tambak yang lainnya. Kolam/tambak yang baru digali harus diberikan  perlakuan  atau  cara  pengapuran  yang  berbeda  dengan kolam/tambak yang sudah pernah dikapur sebelumnya.


 Pada  kolam/tambak-kolam/tambak  yang  baru  digali,  pengapuran dengan menggunakan kapur pertanian, memerlukan kapur sebanyak 20 –150 kg per are (1000  m2) atau 0,2  –  1,5 kg permeter persegi. Adapun caranya adalah  kapur  diaduk  dengan  tanah  dasar  kolam/tambak sedalam  kurang  lebih  5  cm.  Kemudian  air  dimasukkan  ke  dalam kolam/tambak  sampai  mencapai  kedalaman  30  cm.  Biasanya  setelah satu  minggu,  pH  air  kolam/tambak  akan  mencapai  tingkat  yang diinginkan yaitu 6,5 – 8,0.Pada kolam/tambak yang sudah pernah digunakan, perlu  diaplikasikan(diterapkan)  kapur  tohor  (quick  lime)  sebanyak  kira  kira  100-150 kg/ha.  Adapun  caranya  adalah  dengan  menaburkan  kapur  tohor  pada dasar kolam/tambak yang masih lembab, dan biarkan selama 7-14 hari.


Hal ini bertujuan untuk memberantas bibit penyakit, organisme parasit, dan binatang invertebrata yang buas.  Kemudian kolam/tambak diisi air kembali sampai mencapai kedalaman kira kira 30 cm. Setelah itu pH air dapat  disesuaikan  menurut  keperluan  dengan  menambahkan  kapur pertanian bila perlu.



5. pemupukan dasar kolam
Pemupukan  kolam/tambak  merupakan  faktor  penting  untuk memperoleh keberhasilan dalam pembesaran ikan. Tanpa pemupukan maka keberadaan plankton tidak bisa dipertahankan atau ditingkatkan lebih  banyak  lagi.  


 Unsur-unsur  hara  yang  dibutuhkan  oleh  plankton untuk berkembang  dalam kolam/tambak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu unsur mutlak dan unsur  tidak mutlak. Unsur mutlak adalah unsur yang harus tersedia untuk pertumbuhan pakan alami antara lain Carbon (C),  Hidrogen  (H),  Oksigen  (O2),  Nitrogen  (N2),  Fosfor  (P),  Sulfur  (S), Kalsium  (Ca)  dan  Magnesium  (Mg).  Bila  tidak  tersedia,  harus  diberi masukan dengan cara pemupukan. Unsur tidak mutlak adalah unsur-unsur yang sudah cukup terbawa oleh aliran air yang masuk ke dalam kolam/tambak, antara lain Kalium (K), Natrium (Na), Klor (Cl), Aluminium (Al) dan Silikon (Si).


Pemberian  pupuk  pada  tanah  dasar  kolam/tambak  akan  memberikan pengaruh  terhadap  komposisi  jenis  pakan  alami  dan  tingkat produktifitasnya. Tanah dan air merupakan media untuk pertumbuhan pakan  alami  di  kolam/tambak  budidaya.


 Produktifitasnya  ditentukan oleh  kelengkapan  unsur-unsur  hara  sebagai  pembentuk  komponen bahan  esensial  dalam  pertumbuhan  pakan  alami  tersebut.  Pemupukan diperlukan  untuk  memberikan  asupan  agar  unsur-unsur  yang dibutuhkan tersebut menjadi lengkap.


Maksud  pemupukan  adalah  untuk  mencapai  kondisi  media  yang  baik agar pakan alami dapat tumbuh secara optimal. Jadi tujuan pemupukan itu adalah untuk menyediakan unsur-unsur hara, memperbaiki struktur tanah, derajat keasaman dan lain-lain.

Keberhasilan  suatu  pemupukan  sangat  ditentukan  oleh  banyak  faktor, diantaranya  adalah  jenis  dan  jumlah  atau  dosis  pupuk  serta  cara pemupukannya.  Penentuan  dosis  pupuk  secara  tepat  pada  praktiknya adalah sangat sulit karena setiap tempat mempunyai tingkat kesuburan tanah dan air yang berbeda. Dalam  kegiatan  pembesaran  ikan,  secara  umum  pupuk  yang  sering digunakan  dapat  dibedakan  menjadi  dua  yakni  pupuk  anorganik  dan organik.

 Pupuk  anorganik  merupakan  pupuk  buatan  pabrik  dimana  komposisi dan  jumlah  unsur-unsur  penyusunnya  tertentu.  Beberapa  keuntungan pupuk  anorganik  adalah  menyediakan  unsur  dalam  jumlah  dan perbandingan  yang  diinginkan,  mudah  larut  dan  dapat  langsung dimanfaatkan  oleh  organisme-organisme  yang  berklorofil  setelah ditebarkan di air.


Teknik pemupukan
Penentuan  jumlah  pupuk  yang  akan  ditebarkan  dalam  areal  budidaya sangat  penting,  begitu  pula  jenis  pupuknya.  Banyak  faktor  yang mempengaruhi  penentuan  jumlah  pupuk  dan  jenisnya,  diantaranya adalah kondisi tanah dan air baik sifat fisik, kimiawi dan biologi. Setelah ditentukan  jumlah  pupuknya,  langkah  selanjutnya  adalah merencanakan  tata  cara  atau  teknik  pemupukan  yang  akan  dilakukan.

Kekeliruan  dalam  tata  cara  pemupukan  dapat  menimbulkan  pengaruh yang merugikan atau tidak tercapainya tujuan pemupukan tersebut. Salah  satu  contoh  teknik  pemupukan  yang  dilakukan  dalam  budidaya ikan di kolam/tambak sebagai berikut :
Mula-mula  tanah  dasar  kolam/tambak  dibiarkan  dijemur  sampai kering  atau  retak—retak,  lalu  cangkullah  untuk  menggemburkan tanah dasar kolam/tambak.

Sebarkan  pupuk  organik,  seperti  pupuk  kandang/kompos  kering sebanyak 2000 –3000 kg/ha.

Metode  pemberian  pupuk  dapat  dilakukan  dengan  cara  ditebarkan, (dionggokkan)  di  dasar
 kolam/tambak  atau  digantungkan  dalam karung di badan air. Pupuk diaduk rata kemudian disebar ke seluruh permukaan tanah dasar kolam/tambak.

Masukkan air ke dalam kolam/tambak dengan ketinggian 20 – 30 cm, kemudian  dibiarkan  selama  3  -  5  hari.  Hal  ini  dimaksudkan  agar proses  fotosintesis  berjalan  dengan  maksimal  sehingga  pakan  alami dapat tumbuh dengan baik.

Selanjutnya  dapat  ditambah  pupuk  anorganik  yaitu  Urea  +  TSP dengan perbandingan 2 : 1 atau sebanyak 50 kg/ha : 25 kg/ha

Apabila  pada  petakan  pentokolan  ketinggian  air  selanjutnya  dapat dinaikkan  secara  perlahan-lahan  sampai  ketinggian  40  -60  cm,  dan untuk  petak  pembesaran  akan  terus  dinaikkan  dan  dipertahankan pada ketinggian 75 -100 cm.

Biasanya 7 –10 hari setelah pemupukan warna air akan berubah air sudah  hijau  terang  atau  hijau  muda  menandakan  pakan  alami  telah tumbuh dan benih sudah dapat ditebar.

Untuk menjaga pertumbuhan pakan alami bisa berjalan terus secara teratur,  pemupukan  dapat  diulang  3  – 4  kali  selama  masa pemeliharaan  benih.  Pupuk  lanjutan  cukup  dengan  pemberian  Urea dan TSP yang dicampur dengan perbandingan 2 : 1 atau sebanyak 25 kg/ha : 12,5 kg/ha setiap pemberian.
Beberapa  golongan  pakan  alami  yang  diharapkan  tumbuh  dan berkembang di dalam kolam budidaya ikan lele seperti:
(a)  Ganggang (alga) berbentuk benang, yaitu:
Chlorophyceae (alga  hijau),  diantaranya  adalah  Enteromorpha, Chaetomorpha, dan Ulva.
Euglonophyceae, diantaranya adalah Gymnodiumdan Euglena.
(b)  Ganggang (alga) dan bentos jenis klekap, yaitu :
Cyanophyceae(alga biru), diantaranya adalah  Spirulina, Lyngbia, Anabaena,  Oscilatoria,  Phormidium,  Chroococeaus,  Nostoc, Glococapsa, dan Rivularia.
Bacillariophyceae  (alga  kersik),  diantaranya  Cyclotella, Chaetoceros,dan Synedra.
Diatomae,  diantaranya  adalah  Skeletonema,  Rhizosolenia, Niteschia, Ampora, Pleurogma, Pleurosigma, dan Amphara.
(c) Ganggang (alga) plankton (Phytoplankton), yaitu :
Chlorophycae,  diantaranya  adalah  Chlamydomonas,  Chlorella, Platymonas,  Chlorococeum,  Selemastrum,  Kirchanerilla, Scenedesmus, Ochromonas, Navicula, dan Vaneheria.


Disamping  mikroorganisme  nabati  sebagaimana  tersebut  di  atas,  di dalam  tambak  harus  ada  pula  mikroorganisme  hewani  (Zooplankton) seperti:  Amphipoda,  Rotifera  (Brachionus),  Balanus (anak  teritip), Copepoda,  Detritus (bangkai  hewan  renik),  cacing  Annelida,  Crustaceae(anak  ikan  dan  atau  ikan  renik),   Mollusca,  Chironomus (anak  nyamuk teri), dan jasad-jasad penempel (Ferifiton nabati/hewani). Sedangkan  di  kolam  zooplankton  yang  diharapkan  akan  berkembang adalah  golongan  Daphnia,  Moina,  Infusoria,  cacing  Tubifex,  dan  lain sebagainya


Diantara  ke  dua  golongan  pakan  alami  di  atas,  baik  yang  berupa mikroorganisme  nabati  maupun  hewani,  sebaiknya  terdapat  dalam jenis  dan  jumlah  yang  seimbang.   Namun  ada  juga  tambak  yang  hanya diprioritaskan tumbuh fitoplankton saja, misalnya tambak ikan bandeng yang  dominan  membutuhkan  klekap  saja  sebagai  makanan  alaminya.


Kolam  yang  digunakan  untuk  pembesaran  ikan  lele  (Clarias sp),  tidak membutuhkan  fitoplankton  sebagai  pakan  alami,  namun  keberadaan fitoplankton  sebagai  produktivitas  primer  berguna  untuk menumbuhkan zooplankton di kolam. Dengan kata lain tidak mungkin ada zooplankton jika tidak ada fitoplankton. Selain  dalam  kegiatan  persiapan  kolam/tambak,  aplikasi  pupuk  juga dilakukan  saat  kegiatan  pemeliharaan.  Dengan  pemupukan  pada kegiatan  pemeliharaan  maka  keberadaan  pakan  alami  akan  selalu terjaga  keberadaannya,  sehingga  ikan  akan  mendapat  pakan    cukup sehingga  pertumbuhannya  akan  cepat.

 Namun  penggunaan  pupuk organik pada beberapa komoditas ikan budidaya yang rentan terhadap kondisi  kualitas  air  yang  kurang  bagus  tidak  dianjurkan,  karena  dapat menyebabkan ikan keracunan, kekurangan DO, dan bisa terserang hama dan penyakit.Apabila  kondisi  plankton  sudah  terlihat  kurang  (kecerahan  air  tinggi), maka  segera  lakukan  pemupukan  susulan  dengan  dosis  Urea  =  10-25 kg/ha,  dan  TSP  =  5-15  kg/ha.   Waktu  yang  baik  untuk  melakukan pemupukan  susulan  yaitu  siang  hari,  karena  diharapkan  pupuk  akan langsung  direspon  oleh  fitoplankton  untuk  bahan  dalam  proses fotosintesis.

Cara  mengetahui  kepadatan  plankton  di  lapangan  secara  sederhana yaitu  dengan  mengukur  kecerahan  air  kolam/tambak  menggunakan Piring  Secchi (Secchi disk). Apabila kecerahan berkisar lebih kurang 30 -  45  cm,  maka  kepadatan  planktonnya  dikatakan  optimal  (sedang), namun apabila kurang dari 30 cm berarti plankton terlalu padat, berarti sebaiknya dilakukan pengenceran dengan memasukkan air baru. Tetapi apabila lebih dari 45 cm berarti kepadatan plankton kurang atau jarang, tindakan yang harus dilakukan adalah melakukan pemupukan susulan.

6. mengairi kolam budidaya ikan lele
Debit  air  yang  cukup  besar  merupakan   persyaratan  utama  untuk mendirikan  unit  kolam/tambak  .  Debit  air  yang  besar  akan  menjamin ketersediaan  air  yang  berguna  bagi  kolam/tambak  seperti memudahkan penggantian air. Sedangkan fungsi penggantian air adalah untuk membuang atau menghanyutkan bahan-bahan beracun dari sisasisa pakan dan kotoran ikan. Untuk menilai keefekifan penggantian air dipakai ukuran total sirkulasi.

Total sirkulasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengganti seluruh air  kolam/tambak.   Semakin  kecil  angka  total  sirkulasi,  semakin  tinggi keefektifan air. Pembuangan  air  kolam/tambak  yang  efektif  adalah  melalui  bagian dasar kolam/tambak, karena air yang berada pada bagian dasar banyak mengandung  bahan-bahan  dan  senyawa-senyawa  beracun.   Sehingga air yang terbuang adalah betul-betul air yang kotor. Pengisian  air  kolam/tambak  dilakukan  dalam  dua  tahap.  

Tahap pertama  adalah  mengairi  kolam/tambak  sedalam  ±  30  cm.  Tujuannya adalah  untuk  menumbuhkan  pakan  alami,  karena  dengan  kedalaman demikian  penetrasi  matahari  akan  dapat  menembus  sampai  ke  dasar kolam/tambak. Biasanya dalam jangka waktu lebih kurang satu minggu akan  terlihat  plankton  tumbuh  dengan  baik  dengan  kepadatan  yang tinggi. Setelah kondisi kolam/tambak sudah ditumbuhi plankton, maka barulah  kolam/tambak  diisi  air  sampai  ketinggian  ideal  sesuai kebutuhan ukuran ikan yang akan dipelihara.


Air yang sudah diencerkan, membutuhkan beberapa hari lagi untuk siap ditebar  benih  ikan  yaitu  sampai  pakan  alaminya  tumbuh  lagi.   Karena dengan demikian nantinya benih akan terpenuhi kebutuhan pakannya.

Untuk  mendapatkan  parameter  kualitas  air  yang  optimal  dan  kondisi prima, maka selama masa pemeliharaan dilakukan penggantian volume air  secara  terprogram  dengan  memperhatikan  parameter  kualitas  air yang  penting  seperti  suhu,  kecerahan,  salinitas,  DO,  pH,  Nitrit, Alkalinitas, dan gas-gas beracun lainnya.

Pada  kondisi  kualitas  menurun  (kritis),  maka  harus  dilakukan penggantian air baru yang steril dengan volume air yang lebih banyak. Penggantian  air  tersebut  bisa  mencapai  di  atas  30  %,  sehingga  pada kondisi  seperti  ini  harus  ada  sejumlah  air  yang  cukup  baik  secara kuantitas  maupun  kualitas.   Tujuan  penambahan  volume  ini  adalah untuk:
Menambah volume air yang hilang baik dari rembesan maupun dari penguapan (evaporasi)
Pengenceran dari kemelimpahan plankton yang berlebihan (terlalu pekat)
Memperbaiki  kondisi  parameter  kualitas  air  khususnya  bahan organik yang terlalu pekat dan gas-gas beracun.
Upaya  menjaga  kondisi  pH  dan  alkalinitas  air  agar  tetap  stabil  selama masa  pemeliharaan  (selama  kolam/tambak  operasional),  maka dilakukan  pengapuran  susulan  secara  periodik  dengan  dosis  berkisar antara  5  –  15   ppm.


PENEBARAN BENIH IKAN LELE



Tahap selanjutnya setelah pengairan kolam adalah penebaran benih ikan lele. Penebaran benih lele dilakukan jika kondisi air kolam sudah benar-benar matang artinya air kolam sudah berubah warna menjadi hijau dan biasanya memakan waktu 3-6 hari dari waktu pengairan kolam, air yang sudah hijau menandakan kondisi air kolam yang sehat dan banyak terdapat fitoplankton, yang akan menjadi pakan alami benih lele nantinya. Selain itu fitoplankton juga berfungsi sebagai pengurai sisa pakan ikan lele, tetapi keberadaan fitoplankton tersebut juga harus dikontrol jangan terlalu banyak atau blooming karena akan mengakibatkan oksigen terlarut (DO) pada air kolam di malam hari akan sangat rendah.


Ciri-ciri benih lele yang siap tebar antara lain sebagai berikut.
Tidak ada cacat pada tubuh
Berenang dengan normal ( gesit)
Warna tidak kusam
Ukuran seragam
Menghadap dan melawan arus ketika diberi arus
Ukuran benih yang akan ditebar, akan menentukan lama waktu pemeliharaan untuk  mencapai  ukuran  atau  biomassa  panen  tertentu.   Namun  benih berukuran kecil biasanya  harga satuannya  lebih murah dibanding benih  yang berukuran besar.
Padat tebar


Padat  penebaran  benih  adalah  jumlah  atau  biomassa  benih  yang  ditebar per satuan  luas  atau volume sistem teknologi budidaya.  Padat  penebaran benih  akan  menentukan  tingkat  intensitas  pemeliharaan.   Semakin  tinggi padat  penebaran  benih  berarti  semakin  banyak  jumlah  atau  biomassa benih per satuan luas, maka semakin tinggi  tingkat pemeliharaannya. Pada padat  penebaran  yang  tinggi,  kebutuhan  DO  tinggi   jumlah  pakan  yang besar.   Benih  ikan  melakukan  metabolisme,  sebagai  dampaknya  maka limbah  buangannya   berupa  feses,  NH3,  H2S,  dan  CO2  juga  akan  banyak. Untuk  mengatasi  permasalahan  tersebut  pada  sistem  teknologi  budidaya yang  berbasis  daratan  seperti  kolam,  tambak,  atau  bak  plastik,  maka dibutuhkan  suplai  air  yang  banyak  untuk  memenuhi  kebutuhan  oksigen yang  tinggi  dan  membuang  keluar  wadah  buangan  metabolisme  tersebut. Kebutuhan  DO  yang  menigkat  juga  dapat  dipenuhi  dengan  pemberian aerasi. Jumlah  benih  yang  ditebar  sangat  erat  kaitannya  dengan  daya  dukung wadah  serta  sistem  teknologi  budidaya  yang  akan  diterapkan.   Daya dukung  sistem  teknologi  budidaya  meliputi:  kesuburan,  sistem pengairannya, kondisi kualitas airnya, serta kelengkapan sarana prasarana yang digunakan seperti kincir, pompa, dan sebagainya.


Tergantung pada cara anda nantinya untuk memelihara jika anda menggunakan pada tebar yang rendah contohnya 300-400 ekor/m3   tidak akan memerlukan perhatian yang extra karena itu masih cukup standart tetapi jika anda ingin melakukan tehnik budidaya padat tebar tentu akan membutuhkan dana dan perhatian yang khusus
Teknik penebaran benih

Dalam penebaran benih, hal yang tidak boleh dilewatkan adalah aklimasi dan aklimatisasi. Aklimasi  adalah  proses  penyesuaian  biota  air  terhadap  satu  parameter kualitas  air  di  perairan  tempat  budidaya.   Sedangkan  aklimatisasi  adalah penyesuaian  biota  air  terhadap  faktor-faktor  kualitas  air  pada  lingkungan barunya seperti suhu, pH, alkalinitas, dan sebagainya. Mengapa  benih ikan yang  akan  ditebar  harus  diaklimatisasi  ?  

Ya,  karena  ikan  adalah  binatang berdarah  dingin  (Poikiloterm)  dimana  suhu  tubuhnya  sama  dengan  suhu lingkungannya.   Jadi  apabila  lingkungannya  berganti  dimana  suhu lingkungan  hidupnya  yang  baru  juga  berganti.   Yang  menjadi  masalah adalah  apabila  perbedaan  suhu  lingkungan  asal  dan   lingkungan  baru berbeda  terlalu  besar  maka  ikan-ikan  akan  stres.   Maka   aklimatisasi bertujuan  untuk  meminimalisir    kemungkinan  akan  terjadi  “shock  atau stres”   bagi  biota  air  tersebut,  dimana  biota  air  akan  ter ganggu  fungsi fisiologisnya  bahkan   bisa  lebih  parah  lagi  mengakibatkan  kematian. Terlebih bagi biota air yang sudah dalam kondisi lemah akan lebih fatal lagi. Sedangkan  aklimasi  adalah  penyesuaian  biota  air  terhadap  satu  faktor kualitas air saja, misalnya penyesuaian suhu saja, atau pH saja.Proses aklimatisasi sebagai berikut.


1. Benih  di  dalam  kemasan  kantong  plastik  diapungkan  di  dalam  wadah. Biarkan kantong plastik mengapung selama lebih kurang 30 menit agar suhu  di  dalam  kantong  kemasan  sama  dengan  suhu   di  dalam  wadah (proses aklimasi)

2. Setelah  30  menit,  kantong  dibuka  satu  persatu,  tambahkan  air  dari wadah  atau  air  lingkungan   sebanyak  kira-kira  1/4  dari  volume  air kemasan  ke  dalam  kantong  tersebut,  biarkan  selama  15  menit.   Perlu diperhatikan agar setelah kantong dibuka posisinya di air tidak miring, sehingga air tidak masuk.

3. Setelah  15  menit,  tambahkan  lagi  air  wadah   sebanyak  1/4  volume air dalam kantong ,  lalu  biarkan  30  -60 menit.   Penambahan  air  wadah  atau  lingkungan  wadah  ke  dalam kantong  untuk  menyesuaikan  pH  dan  alkalinitas  (salinitas  untuk  ikan payau  dan  laut)  air  dalam  kantong  dengan  air  kolam/tambak  secara bertahap.

4. Setelah dilakukan dua kali penambahan air media pada  kantong, maka diperkirakan salinitas air di kedua tempat sudah sama  atau mendekati sama.   Bila  petani  memiliki  alat  pengukur  kadar  garam,  seyogyanya kadar  garam  diukur.   Jika  ada  perbedaan  kadar  garam  antara  air kemasan benih dan air petakan perbedaannya tidak boleh terlalu besar melebihi 5 ppt.  Jika    ternyata perbedaan lebih besar, masukkan lagi airkolam/tambak  ¼  volume  lagi  ke  dalam  kantung  dan  biarkan  tenang selama 30 menit.

5. Selanjutnya,  periksa  apakah  benih  sehat.   Benih  yang  sehat  akan berenang  dengan  gesit.   Apabila  sudah  dipastikan  bahwa  benih  sudah melakukan  aktifitas  berenang  dengan  aktif,  maka  saatnya  kantongkantong dimiringkan hingga benih-benih dapat berenang keluar sendiri dari  kantong  dan  menyebar  ke  dalam  kolam/tambak.   Namun  jangan lupa ambillah data tentang waktu penebaran (hari, tanggal, jam), jumlah populasi  benih  yang  ditebar,  biomassa  rata-rata,  dan  biomassa  total, sebagai  data  awal  untuk  menentukan  kebutuhan  pakan.    Ketika sampling data awal ini juga sangat dibutuhkan, karena untuk menduga pertumbuhan biomassa ikan dan perhitungan FCR harus diketahui data awal ini.


MANAGEMENT AIR


Orang  awam  banyak  yang  beranggapan  bahwa  ikan  akan  dapat   hidup  dan berkembang  apabila  berada  dalam  air  dan  diberi  pakan  yang  cukup.   Padahal sebenarnya persyaratan air merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan  ikan  baik  dari  segi  kuantitas  maupun  kualitas.  

Persyaratan  kuantitas adalah  persyaratan  air  dari  segi  kecukupannya  meliputi  volume  dan  kontinuitas ketersediaannya  di  dalam  suatu  wadah  budidaya.   Sedangkan  dari  segi  kualitas adalah persyaratan baik dan jeleknya mutu suatu perairan dari aspek fisika,  kimia, dan dari aspek biologi. Persyaratan kualitas air ini bahkan dapat mempengaruhi kepada  faktor  yang  lain  yaitu  faktor  penyakit  yang  bisa  menyerang  ikan.

Dikalangan pembudidaya dikenal ada istilah “ memelihara ikan adalah memelihara air”, yang artinya apabila ingin memperoleh hasil budidaya yang baik maka harus mengelola kualitas air wadahnya dengan baik pula.  Adapun rusng lingkup materi yang akan dipelajari dalam pengelolaan kualitas air pada pembesaran benih ikan adalah meliputi:

1.  Kriteria parameter kualitas air (Biologi, Fisika, Kimia)
2.  Teknik Pengukuran parameter kualitas air (Biologi, Fisika, Kimia)
3.  Pengelolaan kualitas air optimal untuk kegiatan pembesaran
4.  Interaksi antar parameter kualitas air (Biologi, Fisika, Kimia) pada perairan
5.  Pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan ikan

Kuantitas air media budidaya ikan lele
Selama  kegiatan  pemeliharaan  ikan,  kuantitas  (volume)  air  harus  selalu dipertahankan  sesuai  dengan  volume  yang  ditetapkan.  Pengaruh  dari menyusutnya  volume  air  sistem  teknologi  budidaya  memang  tidak  terlalu vital,  namun  cukup  berbahaya  apabila  tidak  segera  diatasi.  

Dampak  dari penurunan volume air sistem teknik budidaya adalah:

Suhu  air  akan  berfluktuasi  tinggi.   Hal  ini  disebabkan  pada  volume  air yang sedikit air akan cepat panas, dan akan cepat juga melepas panas.

Konsentrasi  salinitas  air  cenderung  lebih  tinggi,  karena  penguapan  air yang  tinggi  menyebabkan  partikel-partikel  garam  yang  mengendap semakin  banyak.   Sebagai  contoh  adalah  tambak  garam  yang  airnya sengaja dikeringkan untuk dipanen garamnya.

Untuk  budidaya  semi  intensif  dan  intensif,  kondisi  volume  air  yang kurang menyebabkan DO air turun, sehingga ikan-ikan akan mengalami krisis DO yang berdampak terhambatnya metabolisme pada ikan.


Penggantian  air  media  pembesaran  yang  dilakukan  secara  terprogram, akan  dapat  menjamin  kondisi  kualitas  air  yang  optimal  seperti  DO,  pH, alkalinitas, dan gas-gas beracun lainnya. Pada  kondisi  kualitas  air  yang  kritis  (menurun),  maka  harus  dilakukan penggantian  air  baru  yang  steril  dengan  volume  air  yag  lebih  banyak (penggantian  air  baru  yang  steril  bisa  mencapai  30%),  sehingga  dengan kondisi seperti ini harus ada/tersedia sejumlah air yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitas. Apabila petakan tambak yang anda kelola menggunakan sistem air tandon (petak  karantina),  maka  air  di  petak  tandon  harus  selalu  tersedia  cukup untuk  menggantikan  air  yang  dibuang.   Untuk  mensterilkan  air  bisa digunakan kaporit dengan dosis 5 – 10 ppm.


Tujuan penambahan volume air pada kolam atau tambak adalah untuk:
Menambah air yang hilang akibat rembesan dan penguapan (evaporasi)
Mengencerkan  plankton  apabila  kondisi  plankton  di  kolam  dalam keadaan blooming.
Memperbaiki  kondisi  parameter  kualitas  air,  khususnya  bahan-bahan organik yang terlalu pekat dan zat-zat beracun.

Kualitas air media budiadaya ikan lele
kualitas  air  media  budidaya  yang  baik,  sudah  tentu  akan  mendukung pertumbuhan  dan  perkembangan  ikan  secara  optimal.   Oleh  karena  itu kualitas air media budidaya harus selalu diperiksa dari segi kelayakannya, dan  apabila  terlihat  kecenderungan  penurunan  kualitas  airnya,  maka  kita harus  melakukan  langkah-langkah  pengelolaan  sesuai  dengan  faktor kualitas air yang mengalami penurunan kualitas tersebut. Mengapa faktor kualitas air sangat berpengaruh dalam pembesaran ikan ? Ada beberapa alternatif jawaban yang bisa kita kemukakan yaitu:

Kondisi  kualitas  air  yang  buruk  dapat  memicu  berkembangnya penyakit.   Mengkin  anda  masih  ingat  teori  hubungan  antara  inang, fathogen,  dan  kualitas  air,  yang  berpengaruh  terhadap  perkembangan penyakit di perairan, dalam hal ini penyakit di tambak.

Faktor  kualitas  air  juga  berpengaruh  terhadap  kesuburan  perairan misalnya kelimpahan plankton. Apabila kondisi kualitas air jelek maka kelimpahan  plankton  akan  kurang.

Dengan  demikian  berarti  pakan alami  tidak  tersedia  dengan  jumlah  yang  cukup.   Salah  satu  contoh faktor yang berpengaruh terhadap kesuburan perairan tersebut adalah pH.   Apabila  pH  perairan  rendah  maka  nutrien  yang  ada  di  perairan tidak  akan  direspon  dengan  baik  oleh  plankton  untuk  kebutuhan fotosintesis, sehingga plankton tidak akan berkembang. Nah,  dari  pernyataan  di  atas,  pemeriksaan  dan  pengelolaan  kualitas  air adalah  merupakan  bagian  yang  tidak  dapat  dipisahkan  atau  merupakan bagian integral dengan kegiatan pembesaran ikan. Pemantauan kualitas air pada sumber  air dan  pada media budidaya  pada hakekatnya bertujuan ;
-  Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter fisika, kimia, dan biologi.
-  Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan nilai kualitas air yang idealuntuk budidaya tambak.
-  Menilai kelayakan suatu sumberdaya air untuk kepentingan tertentu. Dalam  mempelajari  pengelolaan  kualitas  air,  kita  mengenal  ada  tiga parameter  kualitas  air,  yaitu  parameter  fisika,  kimia  dan  biologi.  

Masingmasing  parameter  terdiri  dari  banyak  faktor,  dimana  antara  faktor faktor kualitas air ada yang mempengaruhi faktor yang lain. Ada juga antar faktor kualitas air tersebut saling mempengaruhi. Contoh  faktor  kualitas  air  yang  saling  mempengaruhi  antara  satu  dengan yang  lain  adalah  Hubungan  antara  pH  dan  Alkalintas.

 Apabila  alkalinitas tinggi  maka  pH  juga  akan  meningkat,  sebaliknya  apabila  alkalinitas  turun maka pH akan turun juga. Adapun faktor kualitas air yang mempengaruhi terhadap faktor kualitas air lain  yaitu  suhu  yang  dapat  mempengaruhi  kelarutan  oksigen  terlarut  di perairan.
1)  Parameter fisika
Parameter  fisika  kualitas  air  adalah  kondisi  fisik  kualitas  air  yang ditunjukkan  oleh  faktor-faktor  kualitas  air  perairan.   Yang  termasuk parameter fisika itu antara lain Cahaya, suhu, kecerahan dan kekeruhan, warna, dan salinitas.
a)  Cahaya
Dalam  pembesaran  ikan,  keberadaan  cahaya  sangat  penting. Pemanasan air media pembesaran sangat erat hubungannya dengan intensitas  dan  penetrasi  cahaya  yang  masuk  ke  dalam  perairan tersebut. Radiasi  matahari  yang  mencapai  permukaan  bumi  sekitar  1350 Joule/detik/m2 (watt)  dengan  kecepatan  sekitar  186.000  mil/detik (299,790  km/detik).

 Panjang  gelombang  radiasi  matahari  berkisar antara  150  – 3200  nano  meter  dengan  puncak  panjang  gelombang sekitar  480  nano  meter.   Diantara  kisaran  panjang  gelombang radiasi matahari tersebut, hanya radiasi dengan panjang gelombang 400  – 700  nano  meter  yang  dipergunakan  pada  proses  fotosintesis dikenal  dengan  istilah  Photosyntetically  Active  Radiation (PAR).

 Kisaran panjang gelombang fotosintesis ini dikenal dengan sebutan cahaya  tampak  (  Visible  light),  yaitu  cahaya  yang  dapat  dideteksi oleh mata manusia ( Cole, 1988). Cahaya  yang  mencapai  permukaan  bumi  dan  juga  permukaan perairan terdiri dari cahaya langsung (direct) berasal dari matahari dan  cahaya  yang  disebarkan  (diffuse)  oleh  awan  yang  sebenarnya juga berasal dari cahaya matahari (Cole, 1988). Jumlah  radiasi  yang  mencapai  permukaan  perairan  sangat dipengaruhi  oleh  awan,  ketinggian  dari  permukaan  laut  (altitute), posisi  geografi,  dan  musim.   Penetrasi  cahaya  ke  dalam  air  sangat dipegaruhi  oleh  intensitas  dan  sudut  datang  cahaya  pada permukaan  air,  kondisi  permukaan  air,  dan  bahan-bahan  terlarut atau tersuspensi di dalam air (Boyd 1988; Welch, 1952).


Cahaya  matahari  yang  mencapai  permukaan  perairan  sebagian diserap dan sebagian lagi direfleksikan. Molekul-molekul seperti O2,  H2O, dan CO2 dapat menyerap radiasi matahari dan merubahnya menjadi energi panas (Moss, 1993). Pada perairan alami sekitar 53 % cahaya yang masuk mengalami transformasi menjadi panas, dan sudah  mengalami  penghilangan  (extinction)  pada  kedalaman  satu meter dari permukan (Wetzel, 1975). Cahaya  matahari  yang  dipantulkan  kembali  oleh  permukaan  air bervariasi menurut sudut datang cahaya dan musim. Sudut datang cahaya  matahari  ke  permukaan  air  bervariasi  secara  harian.   Pada saat  sudut  datang  cahaya  matahari  tepat  900 yang  terjadi  pada sekitar pukul 12.00, cahaya matahari yang dipantulkan sekitar 1,5  –2,0  %.   Semakin  kecil  sudut  datang  cahaya  semakin  banyak  cahaya yang dipantulkan. Spektrum  cahaya  yang  memiliki  panjang  gelombang  lebih  besar yaitu  merah  dan  orange  (550  nm)  dan  panjang  gelombang  lebih pendek seperti ultraviolet dan violet (ungu) diserap lebih cepat padaperairan  namun  tidak dapat melakukan penetrasi yang lebih dalam ke kolom air dibandingkan dengan dengan spektrum cahaya dengan panjang gelombang pertengahan seperti biru, hijau, dan kuning (400 –  500 nm) yang dapat melakukan penetrasi lebih dalam pada kolom air.   Spektrum  merah  dan  orange  paling  efektif  digunakan  oleh tumbuhan  berklorofil  untuk  aktifitas  fotosintesis tumbuhan  di perairan (Brown, 1987).Cahaya  merupakan  sumber  energi  utama  pada  ekosistem perairan. Cahaya  memiliki  2  fungsi  utama  di  perairan  (Jeffries  dan  Mills, 1996):

Memanasi  air  yang  menyebabkan  perubahan  suhu  dan  berat jenis  (densitas)  dan  berakibat  pada  terjadinya  percampuran massa  dan  kimia  air.   Perubahan  suhu  juga  mempengaruhi tingkat kecocokan perairan sebagai habitat bagi suatu organisme akuatik, karena setiap organisme akuatik memiliki kisaran suhu minimum dan maksimum tertentu untuk hidupnya.

Cahaya  menjadi  sumber  energi  bagi  proses  fotosintesis  oleh algae dan tumbuhan air. Cahaya  sangat  berpengaruh  pada  tingkah  laku  organisme  akuatik.
Algae  planktonik  memperlihatkan  respon  yang  berbeda  terhadap perubahan  intensitas  cahaya.   Ceratium  hirudinella (Dinoflagellata) melakukan  pergerakan  vertikal  pada  kolom  air  karena  perubahan intensitas cahaya.  Blue green  algae  (Cyanophyta) mengatur volume vakuola  gas  untuk  melakukan  pergerakan  secara  vertikal  pada kolom  air  sebagai  respon  terhadap  perubahan  intensitas  cahaya. Zooplankton  melakukan  migrasi  vertikal  harian  juga  karena perubahan intensitas cahaya (Jeffries dan Mills, 1996). Pigmen  klorofil  menyerap  cahaya  biru  dan  merah,  karoten menyerap cahaya biru dan hijau, fikoeritrin  menyerap warna hijau, dan fikosianin menyerap cahaya kuning (Cole, 1988). Dari  pernyataan-pernyataan  di  atas  tentang  cahaya,  diantaranya yang terpenting adalah:

Tidak  semua  radiasi  cahaya  matahari  bisa  digunakan  oleh tumbuhan berklorofil bisa dimanfaatkan untuk fotosintesis,
Jumlah  radiasi  yang  mencapai  permukaan  perairan  sangat dipengaruhi oleh awan, ketinggian dari permukaan laut (altitute), posisi geografi, dan musim.
Cahaya  matahari  yang  mencapai  permukaan  perairan  sebagian diserapdan sebagian lagi direfleksikan.
Pada perairan alami sekitar 53  % cahaya yang masuk mengalami transformasi  menjadi  panas,  dan  sudah  mengalami  penghilangan (extinction)  pada  kedalaman  satu  meter  dari  permukaan.   Oleh sebab itu kedalaman tambak yang ideal agar suhu airnya  optimal sesuai dengan persyaratan hidup ikan minimal satu meter.
Penetrasi  cahaya  matahari  yang  maksimal  terjadi  pada  pukul 12.00,  ini  berarti  fotosintesis  yang  maksimal  juga  terjadi  pada waktu itu. Jadi  cahaya  memegang  peranan  penting  dalam  pembesaran  ikan baik  dalam  memanasi  suhu  media  budidaya  maupun  untuk keberadaan plankton.
b)  Suhu
Suhu  merupakan  faktor  kulitas  air  yang  bisa  mempengaruhi  faktor kualitas  air  lain,  perubahan  suhu  berpengaruh  terhadap  proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Dengan  kata lain turun naiknya suhu  akan  mmpengaruhi  pada  faktor  kualitas  air  yang  lain.   Jadi suhu  merupakan  “controlling  factor”.  

Oleh  sebab  itu  keberadaan suhu di tambak harus bisa dipantau jangan sampai berada di bawah atau di atas kriteria nilai untuk pembesaran ikan. Suhu  suatu  badan  air  dipengaruhi  oleh  musim,  lintang  (latitude), ketinggian  dari  permukaan  laut  (altitude),  waktu  dalam  sehari, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran serta kedalaman dari badan air. Peningkatan  suhu  mengakibatkan  peningkatan  kekentalan (viskositas),  reaksi  kimia,  evaporasi  dan  volatilisasi.   Selain  itu peningkatan  suhu  juga  menyebabkan  penurunan  kelarutan  gas dalam  air  seperti:  gas  O2,  CO2,  N2,  CH4,  dan  sebagainya  (Haslam, 1995). Kecepatan  metabolisme  dan  respirasi  organisme  air  juga memperlihatkan  peningkatan  dengan  naiknya  suhu  yang selanjutnya  mengakibatkan  peningkatan  konsumsi  oksigen.

Peningkatan  100C  suhu  perairan  meningkatkan  konsumsi  oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2  –3 kali lipat. Namun kondisi yang sebaliknya  adalah  dengan  peningkatan  suhu  terjadi  penurunan kadar  oksigen  terlarut  di  perairan,  sehingga  keberadaan  oksigen terlarut  kadangkala  tidak  mampu  memenuhi  peningkatan  oksigen yang  dibutuhkan  oleh  organisme  akuatik  untuk  metabolisme  dan respirasi.


  Dekomposisi  oleh  mikroba  juga  menunjukkan peningkatan  dengan  semakin  meningkatnya  suhu.   Kisaran  suhu yang optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20 – 300C.


Ikan  seperti  halnya  biota  air  lainnya  merupakan  hewan  berdarah dingin  (Poikilotermal),  oleh  sebab  itu  suhu  tubuhnya  sangat tergantung  oleh  suhu  air.   Namun  begitu  perubahan  suhu  baik berupa  penurunan  maupun  peningkatan  suhu  yang  sangat  besar (drastis)  sama  sekali  tidak  dapat  ditolerir  oleh  ikan  dan  dapat menyebabkan  ikan  „shock“.

Kisaran  suhu  yang  optimal  bagi pemeliharaan ikan di kolam adalah 23 – 300C. Suhu  rendah  dibawah  normal  dapat  menyebabkan  ikan  mengalami lethargi,  yaitu  kehilangan  nafsu  makan,  dan  menjadi  lebih  rentan terhadap  penyakit.  Sebaliknya  suhu  yang  terlalu  tinggi  ikan  dapat mengalami  stress  pernapasan  dan  bahkan  dapat  menyebabkan kerusakan insang permanen.


Peningkatan  suhu  kadang-kadang  diperlukan  untuk  meningkatkan laju  metabolisme  ikan  sehingga  perlakuan  tersebut  diharapkan dapat menolong mempercepat proses penyembuhan suatu penyakit, dan  atau  mempercepat  siklus  hidup  suatu  parasit  sehingga  parasit tersebut dapat segera dihilangkan.

Penurunan suhu secara perlahan, jarang  menimbulkan  shock,  meskipun  demiki   an  temperatur hendaknya  dikembalikan  ke  kondisi  semula  secara  perlahan-lahan dalam waktu satu jam atau lebih. Untuk  menurunkan  suhu  air  di  tambak  dan  mempertahankannyapada  suhu  rendah,  dapat  digunakan  kincir.  Kincir merupakan  alat  yang  mendifusikan  oksigen  ke  dalam  air  dan melepaskan  panas  ke  udara.  Prinsip  kerjanya  kurang  lebih  sama dengan prinsip kipas angin (fan). Pada  kondisi  normal,  suhu  air  selalu  turun  naik  sepanjang  hari sesuai  dengan  suhu  udara  atau  terik  matahari  di  hari  itu.


 Pada tambak  dengan  kedalaman  lebih  dari  1  meter,  seperti  halnya  pada tambak  intensif,  suhu  pada  kolam  air  bagian  permukaan  seringkali menjadi  lebih  tinggi  dibanding  pada  bagian  bawah,  bahkan  sampai kedalaman 20 -30 cm di siang hari yang panas. Perbedaannya bisa mencapai  20C.   Hal  ini  kurang  baik  bagi  ikan,  dan  oleh  sebab  itu kembali  peran  kincir  sangat  vital  untuk  mengaduk  air  agar  tidak terjadi stratifikasi suhu. Suhu  air  tambak  yang  normal  di  wilayah  tropis  seperti  Indonesia berkisar  antara  250C  – 32 0C.   Suhu  rendah  biasanya  terjadi  pada malam  hari  karena  matahari  tenggelam  sementara  angin  bertiup relatif  banyak.  


Kondisi  yang  umum  terjadi  di  tambak  adalah  suhu yang  relatif  tinggi,  namun  masih  berada  pada  nilai  kisaran  yang disenangi oleh ikan. Tambak  merupakan  sistem  teknologi  budidaya  yang  cenderung memiliki   suhu  yang  panas.   Tetapi  suhu  maksimal  tidak  terlalu membahayakan  karena  masih  berada  pada  batas  yang dipersyaratkan  bagi  kehidupan  ikan.   Yang  menjadi  permasalahan dari  suhu  adalah  jika  terjadi  fluktuasi  suhu,  karena  sifat  ikan berdarah dingin (Poikilotermal) yang bisa mengakibatkan ikan stres apabila terjadi fliktuasi suhu yang terlalu besar.


Fluktuasi suhu yang terjadi  sebesar  ≥  50C  apalagi  dalam  jangka  waktu  singkat,  bisa menyebabkan ikan stres bahkan sampai mati. Pengukuran suhu di tambak yang sering dilakukan oleh para petambak tiga kali sehari, yaitu  pada  pagi  hari  pukul  08.00,  siang  hari  pukul  12.00  dan  sore hari  pukul  16.00.   fungsi   dari  pengukuran  suhu  ini  adalah  untuk mengetahui  suhu  terendah  dan  suhu  tertinggi  dalam  satu  hari. Pengukuran  berikutnya  hanya  dilakukan  apabila  terjadi  suasana yang  ekstrim  saja,  misalnya  cuaca  yang  mendung  atau  hujan  terus menerus,  maka  perlu  dilakukan  pengecekan  suhu  untuk  melihat nilai  minimalnya.   Memang  susah  untuk  bisa  menaikkan  suhu  air tambak,  namun  tindakan  lain  untuk  mengatasi  dampak  penurunan kualitas  air  lainnya  akibat  dampak  penurunan  suhu,  dapat  kita lakukan. Sebagai contoh, suhu rendah mengakibatkan metabolisme ikan  turun,  maka  kita  harus  mengurangi  jatah  pemberian  pakan sampai setengah bagiannya.

MANAGEMENT PAKAN


Jenis-jenis pakan
Ikan memerlukan nutrisi yang cukup agar bisa berkembang maksimal. Ada dua jenis pakan yang biasa digunakan pada budidaya ikan lele yaitu.
Pakan alami
Pakan ini sering digunakan sebagai pendamping pakan pabrikan. Pakan ini berupa pakan hijauan, kita bisa dengan mudah mendapatkannya. Penggunaan pakan ini tidak dapat digunakan sebagai pakan utama. Karena ikan lele bukanlah ikan herbivora.
Pakan buatan ( pabrikan)
Pakan ini memiliki nilai nutrisi yang cukup. Sangat baik dalam menunjang perkembangan hidup ikan kita. Tetapi kita akan sedikit terkendala karena harga pakan ini cukup mahal.


Tetapi anda dapat mengatasinya dengan menekan nilai FCR ( feed conversi ratio) dengan menambahkan vitamin dan probiotik yang di bibiskan kepakan.
Pemberian pakan ikan lele harus terkontrol artinya kita tidak bisa sesuka hati untuk untuk memberi makan , pemberian pakan ikan harus teratur dan sesuai dengan bobot ikan yang sedang di pelihara. Setiap usia lele yang berbeda memerlukan pakan yang berbeda pula.
Pemberian pakan 3x dalam sehari. Pagi , siang, dan malam hari. Ketika datang hujan pemberian pakan dihentikan karena lele akan memuntahkan kembali pakan yang dimakannya pemberian pakan dilanjutkan setelah hujan reda. Karena ikan lele merupakan ikan nokturnal atau hewan yang aktif pada malam hari pemberian pakan lebih banyak pada malam hari.
        Baca Juga



Wah, sudah cukup panjang yah artikel ini dah capek ngetiknya, hehehehe.   Sekian tips dari saya mungkin ini sudah sangat cukup sebagai pegangan bagi para pembudidaya yang masih newbie. Semoga sukses dan barokah.

Comments